Tidak Semua Anak Daerah Bisa Tepat Waktu

Saya pertama kali keluar dari NTT saat masih duduk di bangku SMA. Tujuan saya Malang. Saya diterima di sebuah yayasan yang membiayai sekolah, tetapi dengan satu syarat: saya harus sekolah sambil bekerja melayani anak-anak disabilitas.

Di usia yang masih sangat muda, saya belum benar-benar mengerti seberapa besar tanggung jawab itu. Yang saya tahu hanya satu ini kesempatan. Dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, apalagi bagi saya yang lahir dari keluarga sederhana. 

Hari-hari saya diisi dengan sekolah, lalu melayani dan mendampingi anak-anak disabilitas. Ada lelah yang sering tidak bisa saya ceritakan. Ada tangis yang saya simpan sendiri. Kadang saya bertanya dalam hati, kenapa perjalanan saya berbeda dengan teman-teman lain yang bisa menikmati masa SMA tanpa beban pekerjaan.

Namun sejak kecil, saya memang tidak asing dengan tanggung jawab. Sejak kelas 3 SD, saya sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah: memasak, membersihkan rumah, membantu orang tua sebisa mungkin. Di rumah, kami diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua dan menerima keputusan tanpa banyak protes. Bukan karena kami tidak punya keinginan, tetapi karena kami tahu kondisi keluarga kami.

Mungkin nilai itu yang membuat saya tetap bertahan.

Setelah lulus SMA, saya tidak bisa langsung kuliah. Saya harus melanjutkan kontrak kerja selama empat tahun karena biaya pendidikan saya telah ditanggung yayasan. Empat tahun itu terasa panjang. Sementara teman-teman saya mulai memasuki dunia perkuliahan, saya masih bekerja.

Ada rasa tertinggal. Ada rasa khawatir apakah saya akan benar-benar sampai ke bangku kuliah.


Ketika akhirnya saya memutuskan kuliah di Yogyakarta, saya kembali merasakan hal yang berbeda. Di kelas, saya duduk bersama teman-teman yang baru lulus SMA. Beberapa bahkan sudah memiliki pekerjaan tetap. Saya merasa lebih tua. Saya merasa terlambat. Rasa minder itu nyata.

Saya sering membandingkan diri. Mengapa saya harus menunggu empat tahun? Mengapa jalan saya terasa lebih panjang?

Namun perlahan saya menyadari sesuatu. Perjalanan saya memang tidak secepat yang lain, tetapi saya tidak datang dengan tangan kosong. Saya datang membawa pengalaman, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang dibentuk sejak kecil.

Saya belajar bahwa pendidikan bagi anak daerah sering kali bukan soal siapa yang paling cepat menyelesaikan studi. Pendidikan adalah tentang bertahan dalam keterbatasan. Tentang menjaga kepercayaan orang tua. Tentang menghargai setiap kesempatan yang datang.

Saya mungkin tidak tepat waktu menurut standar umum. Tetapi saya tidak berhenti berjalan.

Dan mungkin, di situlah identitas saya terbentuk bukan dari kecepatan, tetapi dari ketahanan.

Komentar

Postingan Populer