Tidak Semua Anak Daerah Bisa Tepat Waktu
Saya pertama kali keluar dari NTT saat masih duduk di bangku SMA. Tujuan saya Malang. Saya diterima di sebuah yayasan yang membiayai sekolah, tetapi dengan satu syarat: saya harus sekolah sambil bekerja melayani anak-anak disabilitas. Di usia yang masih sangat muda, saya belum benar-benar mengerti seberapa besar tanggung jawab itu. Yang saya tahu hanya satu ini kesempatan. Dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, apalagi bagi saya yang lahir dari keluarga sederhana. Hari-hari saya diisi dengan sekolah, lalu melayani dan mendampingi anak-anak disabilitas. Ada lelah yang sering tidak bisa saya ceritakan. Ada tangis yang saya simpan sendiri. Kadang saya bertanya dalam hati, kenapa perjalanan saya berbeda dengan teman-teman lain yang bisa menikmati masa SMA tanpa beban pekerjaan. Namun sejak kecil, saya memang tidak asing dengan tanggung jawab. Sejak kelas 3 SD, saya sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah: memasak, membersihkan rumah, membantu orang tua sebisa mungkin. Di ruma...




